RSS

Arsip Kategori: Al Hadist

Ketika Bahagia Dan Celaka Telah Ditentukan

Sesungguhnya, seorang anak Adam, telah ditentukan oleh Allah, akan dimasukkan ke Surga atau Neraka jauh sebelum mereka dilahirkan, sebagaimana terdapat dalam hadits,

   “Allah menciptakan Adam, lalu ditepuk pundak kanannya kemudian keluarlah keturunan yang putih, mereka seperti susu. Kemudian ditepuk pundak yang kirinya lalu keluarlah keturunan yang hitam, mereka seperti arang.. Allah berfriman, ‘Mereka (yang seperti susu -pen) akan masuk ke dalam surga sedangkan Aku tidak peduli dan mereka (yang seperti arang-pen) akan masuk ke neraka sedangkan Aku tidak peduli.’”

(Shahih; HR. Ahmad, ath-Thabrani dallam Al-Mu’jamul Kabir dan Ibnu Asakir, lihat Shahihul Jami’ no: 3233)

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda,

‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah mengetahui bahwa seseorang telah ditentukan akan dimasukkan ke surga atau neraka, tentu akan timbul pertanyaan dan kesimpulan berdasarkan akal logika manusia yang lemah, “Kalau begitu buat apa kita beramal. Nanti udah capek-capek ibadah ternyata masuk neraka” atau perkataan semisal itu.

Read the rest of this entry »

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Mei 2011 in Al Hadist

 

Amalan yang tak akan putus

Sebuah doa

Taukah kalian bahwa ada amal yang tidak akan putus sampai kelak kita meninggal dunia. Dalam sebuah hadist yang bersumber dari As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”

Maksud dari ketiga perkara di atas yaitu:

1. Shadaqoh Jariyah

“Allah mencatat semua amal dan bekas-bekas yang ditinggalkannya” (Yaa Siin 36: 12)

Dalam hal ini Shadaqah jariyah itu adalah shadaqah yang dikeluarkan manusia pada masa hidupnya untuk kepentingan yang bermanfaat orang lain. Contohnya :

a. Sedekah yang kita berikan pada Masjid, atau pada kepentingan umum yang selama itu masih dipakai, meski kita meninggal, namun pahalanya tetap mengalira.

b. Menyumbangkan kursi roda ke rumah sakit.

c. Memberikan al-Quran pada seseorang.

d. Membantu mendidik seorang anak.

e. Mengajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu,anda dapat hasanah.

f. Menanam sebuah pohon.

g. Sedekah yang dikeluarkan dari hartanya ketika sehat semasa hidupnya, kesemuanya itu akan menyertainya setelah meninggalnya.” (HR. Ibnu Majah).

2. Ilmu Yang Bermanfaat

Yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang diajarkan kepada orang lain, sementara ilmu itu terus dipakai orang. Di dalam Al-Qur-an terkadang Allah Ta’ala menyebutkan ilmu pada kedudukan yang terpuji, yaitu ilmu yang bermanfaat. Dan terkadang Dia menyebutkan ilmu pada kedudukan yang tercela, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat.

Adapun  firman Allah Ta’ala,

“… Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’…”

[Az-Zumar: 9]

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

[Ali ‘Imran: 18]

“… Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”

[Thaahaa: 114]

“… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.”

[Faathir: 28]

Firman Allah Ta’ala tentang kisah Adam dan pelajaran yang didapatkannya dari Allah tentang nama-nama segala sesuatu, dan memberitahukannya kepada para Malaikat. Para Malaikat pun berkata,

“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’”

[Al-Baqarah: 32]

Dan firman Allah Ta’ala mengenai kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidhir.

Nabi Musa berkata kepadanya,

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’”

[Al-Kahfi: 66]

Itu semua merupakan ilmu yang bermanfaat. Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya,

“… Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka sudah tahu barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.”

[Al-Baqarah: 102]

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

[Ar-Ruum: 7]

3. Anak Shalih Yang Mendoakan Kepadanya

Anak shalih yaitu anak yang mau mendoakan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Doa tersebut tentu sangat diinantikan oleh orang tua kita di alam sana ketika mereka sudah meninggal

Ada sebuah doa yang dikenal dengan nama ‘Doa Anak Shalih’ dan yang diajarkan oleh hampir semua orang tua muslim kepada anak-anak mereka dengan harapan agar anak-anak mereka mau mendoakan mereka dengan doa ini.

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

 

 

Sumber: di sini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Mei 2011 in Al Hadist